China Semakin Agresif, Ketakutan Trump Akhirnya Menjadi Realita
Daftar isi:
Sejak era pemerintahan Joe Biden hingga Donald Trump, Amerika Serikat (AS) telah mengambil berbagai langkah untuk memblokir kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) di China. Kebijakan ini muncul dari kekhawatiran bahwa China dapat memanfaatkan AI untuk memperkuat kemampuan militernya, yang menjadi perhatian utama bagi AS dan sekutunya.
Regulasi yang diterapkan oleh AS termasuk membatasi ekspor chip dan alat yang diperlukan untuk pembuatan chip canggih ke China. Namun, keputusan Trump untuk mengizinkan ekspor chip H200 oleh Nvidia menunjukkan bahwa dinamika kebijakan ini dapat berubah seiring waktu.
Kondisi saat ini menggambarkan China yang semakin berusaha mandiri dalam pengembangan teknologi canggih, mengurangi ketergantungan pada AS. Langkah ini menjadi semakin kritis ketika laporan terbaru menunjukkan bahwa China meluncurkan proyek teknologi AI yang memungkinkan pembuatan drone militer dengan kemampuan meniru perilaku hewan.
Proyek Drone Militer dan Inovasi dalam AI
Penelitian yang dilakukan oleh insinyur dari Beihang University, yang terhubung dengan militer, telah menghasilkan sistem drone inovatif. Drone ini mampu berperilaku seperti elang dan merpati, menampilkan kemajuan signifikan dalam bidang teknologi militer.
Dalam simulasi, drone yang berfungsi sebagai ‘elang’ dapat mengidentifikasi dan menyerang target musuh yang paling rentan, sedangkan ‘merpati’ berfungsi sebagai drone defensif yang menghindari serangan lawan. Keberhasilan ini menunjukkan potensi besar bagi pengembangan strategi tempur otomatis di masa depan.
Sejak paten sistem ini diperoleh pada April 2024, agenda pertahanan China semakin difokuskan pada pengembangan kawanan drone otomatis. Inovasi ini dianggap sebagai alat vital untuk memperkuat posisi militer China di panggung global.
Persepsi Militer Terhadap AI dan Perubahan Taktik Peperangan
Bagi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), AI merupakan kunci untuk pengoperasian sistem tanpa awak dalam dunia peperangan masa kini. Begitu pula, para analis militer menilai bahwa penggunakan AI dapat merubah cara strategi militer di masa depan, menciptakan revolusi dalam metode tempur.
Dalam konteks modern, penggunaan drone telah terbukti efektif dalam berbagai konflik, termasuk di Ukraina. Dengan kapasitas produksi yang jauh lebih tinggi daripada Amerika Serikat, China memiliki keuntungan di pasar drone militer.
Menariknya, China juga telah memamerkan robot ‘serigala’ bersenjata yang dapat bekerja sama dengan kumpulan drone. Ini menunjukkan bahwa inovasi dalam AI tidak hanya terbatas pada pengembangan drone tetapi juga pada penciptaan unit militer yang lebih canggih.
Risiko dan Tantangan dalam Pengembangan Teknologi AI Militer
Sementara banyak kemajuan yang dicapai, para ahli memperingatkan risiko yang muncul, terutama jika keputusan kritis diambil tanpa intervensi manusia. Konsep “kotak hitam algoritma” di dalam sistem senjata AI dapat menjadi alasan untuk menghindari tanggung jawab di masa depan.
China mempelajari perilaku hewan lain, seperti semut dan paus, untuk meningkatkan koordinasi dan efektivitas drone. Penelitian ini sangat berkontribusi pada penciptaan taktik tempur yang lebih sosial dan efektif.
Data menunjukkan bahwa sejak 2022, China telah mengajukan lebih dari 930 paten terkait kecerdasan kawanan, jauh melampaui 60 paten yang diajukan oleh AS. Dominasi China dalam inovasi ini menunjukkan potensi besar bagi mereka untuk mengejar keunggulan di arena militer global.
Dalam menjalani pengembangan ini, PLA melihat AI sebagai solusi untuk mengatasi keterbatasan manusia dan kompleksitas operasi militer. Meski demikian, tidak jarang bahwa kekhawatiran muncul mengenai apakah sistem yang bergantung pada AI dapat bertindak secara efektif dalam situasi tempur yang kompleks dan tidak terduga.
Berdasarkan analisis, kombinasi kemampuan AI dan rantai pasokan drone yang masif memungkinkan PLA untuk menciptakan skenario serangan yang menakutkan bagi musuhnya. “Dengan sangat mudah, kita bisa mencapai kepadatan tembakan yang tinggi di udara, sehingga sulit bagi sistem pertahanan untuk merespons,” ungkap seorang analis dari Center for a New American Security.
Dengan kompleksitas dan kecepatan dalam pengembangan teknologi militer ini, baik China maupun AS berada di persimpangan yang kritis. Masing-masing negara harus mempertimbangkan baik potensi keuntungan maupun risiko yang dihadapi dalam perlombaan menuju masa depan yang lebih otomatis dan terintegrasi dalam peperangan.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now








