Trump Menyerah pada China, Amerika Terbelah
Daftar isi:
Keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengizinkan penjualan chip kecerdasan buatan (AI) H200 ke China telah mengundang pro dan kontra di kalangan politisi dan pakar. Langkah ini dianggap berisiko karena dapat memperburuk posisi teknologi AS dan membantu modernisasi militer Beijing. Dalam konteks ini, pertarungan antara keamanan nasional dan kemajuan teknologi semakin mendominasi diskusi di Washington.
Persetujuan ini menandai akhir dari pembatasan yang sebelumnya diterapkan oleh pemerintahan Biden yang melarang ekspor chip canggih ke China demi menjaga keamanan nasional. Dengan aturan baru ini, diharapkan transaksi terkait chip H200 bisa segera dimulai lagi, memberikan sebagian perhatian positif terhadap industri teknologi di AS.
Namun, keputusan ini tidak luput dari kritik tajam para legislator dan mantan pejabat keamanan nasional yang mengkhawatirkan dampak buruk terhadap posisi strategis AS. Mereka berpendapat bahwa penjualan ini bisa memperkuat kemampuan militer Beijing, yang melibatkan berbagai teknologi canggih, dari senjata nuklir hingga drone otonom.
Reaksi Keras dari Legislator dan Mantan Pejabat AS
Matt Pottinger, mantan penasihat senior di Gedung Putih, menyuarakan keprihatinannya dalam sebuah sidang kongres, menyatakan bahwa langkah Trump tidak tepat. Ia menekankan bahwa penjualan chip H200 dapat memperkuat kemampuan militer China, termasuk dalam bidang-bidang kritis seperti perang siber dan intelijen.
Sejumlah anggota legislatif dari Partai Republik pun menunjukkan gelombang kekhawatiran yang serupa, meski tanpa secara langsung mengkritik Trump. Michael McCaul menyebutkan bahwa China dikenal sering melakukan pencurian kekayaan intelektual, sehingga AS tidak seharusnya menjual teknologi strategis kepada mereka.
Di sisi lain, legislator Demokrat memberikan kritik lebih tajam. Gabe Amo dengan tegas mengatakan bahwa tindakan Trump bagaikan memberi keunggulan kepada musuh di tengah konflik, mempertanyakan logika di balik kelonggaran penjualan teknologi canggih ini. Kritiknya menyiratkan kepada publik bahwa strategi ini bisa merugikan kepentingan nasional AS.
Argumen dan Pembenaran Dari Pemerintahan Trump
Di tengah tantangan tersebut, pemerintahan Trump melalui kepala kebijakan AI, David Sacks, menyatakan bahwa menjual chip ke China bisa menguntungkan industri domestik. Dengan memberi ruang bagi pasokan chip, hal ini diharapkan dapat mempertahankan daya saing, dengan dampak pada lapangan pekerjaan di dalam negeri.
Akan tetapi, pandangan ini langsung ditentang oleh para pengamat yang menganggapnya sebagai sebuah fantasitis. Mereka berargumen bahwa membiarkan teknologi canggih mengalir ke China sama sekali tidak sejalan dengan kepentingan strategis jangka panjang Amerika.
Selain itu, aturan baru yang mengatur penjualan chip H200 ke China mencakup sejumlah pembatasan. Chip harus diuji oleh pihak ketiga sebelum diekspor, serta tidak boleh lebih dari 50 persen dari total chip yang dijual kepada pelanggan AS yang boleh diterima oleh China.
Efektivitas Aturan Baru dan Tantangannya
Tidak hanya itu, setiap pengiriman yang dilakukan juga harus dipastikan tidak ada kaitannya dengan militer. Ini menjadi tantangan tersendiri dan menciptakan masalah bagi banyak pihak, termasuk Departemen Perdagangan AS. Sebab, kejujuran dari pihak pembeli di China menjadi faktor penting dalam pelaksanaan aturan ini.
Jon Finer, mantan wakil penasihat keamanan nasional, menyampaikan bahwa aturan tersebut dapat menciptakan beban bagi pemerintah AS. Hal ini mencerminkan betapa sulitnya mengawasi dan menegakkan batasan yang tidak hanya rumit tetapi juga bergantung pada kepatuhan pihak ketiga.
Nvidia, yang terlibat dalam penjualan chip, menanggapi isu ini dengan menekankan pentingnya untuk tetap bersaing di kancah bisnis yang komersial. Menurut mereka, ini adalah langkah untuk menjaga posisi dalam industri yang sangat kompetitif dan berdampak pada perekonomian nasional.
Kondisi Ekonomi dan Hubungan Antara AS dan China
Keputusan ini juga menyoroti potensi ketidakpastian mengenai seberapa banyak chip sebenarnya akan dijual ke China. Dalam konteks ini, ada laporan sebelumnya yang menyebutkan bahwa bea cukai China telah menolak beberapa pengiriman chip H200. Ini menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai kelanjutan kebijakan ini dan efeknya terhadap hubungan bilateral.
Sementara itu, Gedung Putih dan Departemen Perdagangan belum memberikan respon resmi terhadap situasi ini. Kedutaan Besar China di Washington pun mengungkapkan keinginan untuk melanjutkan kerja sama yang saling menguntungkan, meskipun terdapat ketegangan yang jelas antara kedua negara.
Ambisi China untuk memperkuat teknologi dan inovasi militer mereka tidak dapat dipandang remeh. Dalam lingkungan global yang semakin kompetitif dan kompleks, keputusan untuk menjual teknologi canggih seperti chip H200 membawa implikasi jauh lebih besar dari sekedar urusan bisnis.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now








